google-site-verification: googlee14e3409d2fcbac7.html

Friday, August 29, 2014

Mandiri Yuk!

Sepulang dari sekolah PAUD , anak saya fadhil bercerita bagaimana tadi sewaktu sekolah untuk pertama kalinya dia ditinggal sendiri di ruang kelas. Trus saya tanyakan ke dia apa yang dia lakukan sewaktu ditinggal sendiri, dia bilang,mulanya sih dia menangis, meminta ibunya untuk menemaninya di kelas, tetapi lama kelamaan berkat bujukan dari ibu gurunya, akhirnya dia berhenti menangis dan mau melanjutkan pelajaran hari itu. Saya katakan kepada anak saya, bahwa dia itu hebat karena sudah mau belajar di kelas sendirian, itu tandanya dia seorang anak yang pintar dan berani.
Sebelumnya, ibunya sudah bercerita bagaimana pada saat dia menangis,  ibu dan neneknya yang biasa memanjakannya menunggu di balik pintu dengan perasaan galau, terutama neneknya,  mendengar cucu kesayangannya menangis “pilu”  tetapi memang karena gurunya meminta agar dia harus belajar mandiri tanpa ditunggui oleh ibu dan neneknya maka dengan sangat terpaksa keduanya harus keluar dari kelas. Sebelumnya ibu dan neneknya merasa khawatir dia tidak mau lagi pergi ke sekolah karena kejadian itu, tetapi saat saya tanyakan kepada anak saya, apakah besok masih mau sekolah, dia menjawab dengan mantapnya, mau dong!
Sikap tidak mandiri bukanlah monopoli seorang anak kecil, dalam kehidupan ini, banyak kita temui “ketidakmandirian”,  yang terkadang dianggap “lumrah” oleh masyarakat di sekitarnya.  Kemandirian itu penting, karena ini menyangkut ketahanan hidup seseorang, ketahanan hidup suatu masyarakat atau suatu bangsa. Mandiri memang tidak berarti kita harus memenuhi segala kebutuhan kita sendiri, mandiri juga tidak berarti kita memeras otak mencari cara sendiri di dalam memecahkan masalah yang kita hadapi. Buat saya, mandiri itu adalah kreativitas mengolah rasa dan karsa serta keberanian memulai tanpa harus tergantung pada suatu keadaan atau pihak lain.