Sepulang dari sekolah PAUD , anak saya fadhil bercerita bagaimana tadi sewaktu sekolah untuk pertama kalinya dia ditinggal sendiri di ruang kelas. Trus saya tanyakan ke dia apa yang dia lakukan sewaktu ditinggal sendiri, dia bilang,mulanya sih dia menangis, meminta ibunya untuk menemaninya di kelas, tetapi lama kelamaan berkat bujukan dari ibu gurunya, akhirnya dia berhenti menangis dan mau melanjutkan pelajaran hari itu. Saya katakan kepada anak saya, bahwa dia itu hebat karena sudah mau belajar di kelas sendirian, itu tandanya dia seorang anak yang pintar dan berani.
Sebelumnya, ibunya sudah bercerita bagaimana pada saat dia menangis, ibu dan neneknya yang biasa memanjakannya menunggu di balik pintu dengan perasaan galau, terutama neneknya, mendengar cucu kesayangannya menangis “pilu” tetapi memang karena gurunya meminta agar dia harus belajar mandiri tanpa ditunggui oleh ibu dan neneknya maka dengan sangat terpaksa keduanya harus keluar dari kelas. Sebelumnya ibu dan neneknya merasa khawatir dia tidak mau lagi pergi ke sekolah karena kejadian itu, tetapi saat saya tanyakan kepada anak saya, apakah besok masih mau sekolah, dia menjawab dengan mantapnya, mau dong!
Sikap tidak mandiri bukanlah monopoli seorang anak kecil, dalam kehidupan ini, banyak kita temui “ketidakmandirian”, yang terkadang dianggap “lumrah” oleh masyarakat di sekitarnya. Kemandirian itu penting, karena ini menyangkut ketahanan hidup seseorang, ketahanan hidup suatu masyarakat atau suatu bangsa. Mandiri memang tidak berarti kita harus memenuhi segala kebutuhan kita sendiri, mandiri juga tidak berarti kita memeras otak mencari cara sendiri di dalam memecahkan masalah yang kita hadapi. Buat saya, mandiri itu adalah kreativitas mengolah rasa dan karsa serta keberanian memulai tanpa harus tergantung pada suatu keadaan atau pihak lain.
Masalah kenaikan harga bensin dan solar yang sedang ramai dibicarakan oleh seluruh elemen bangsa ini, adalah contoh yang paling aktual mengenai ketidakmandirian ini. Dalam hal ini negara sendiri yang menciptakan ketidakmandirian ini, jangan salahkan rakyat kalau mereka melakukan “akal-akalan” untuk mensiasati terus melambungnya harga bensin dan solar. Kita menjual minyak mentah lalu membeli produk olahan minyak mentah, seperti minyak tanah, LPG, bensin, solar atau avtur. Harga jual minyak mentah dengan harga beli produk olahannya jelas berbeda, tentunya lebih mahal harga jual produk olahan, di sinilah muncul selisih negatif (selisih kurs dollar serta selisih harga jual dan harga beli) yang kemudian memaksa pemerintah melakukan subsidi. Semakin tinggi selisih negatif itu, maka akan semakin tinggi juga beban subsidi yang harus ditanggung negara. Hal ini diperparah lagi dengan semakin menipisnya cadangan minyak bumi yang kita miliki, padahal penjualan minyak bumi (minyak mentah) merupakan salah satu sumber devisa yang besar.
Seperti halnya anak saya, Kemandirian itu harus di-create, diciptakan, dan dipaksakan. Sebagai suatu bangsa, Indonesia masih jauh untuk dapat dikatakan sebagai negara yang mandiri, terlalu banyak ketergantungan terhadap Negara lain. Negara punya tanggung jawab untuk menciptakan kemandirian, jangan bebankan rakyat dengan tanggung jawab itu, jangan pula menyalahkan rakyat yang tidak mampu bersikap mandiri, sebab kawulo cilik (rakyat) itu sebagaimana sabda ratunya. Negara (pemerintah) harus mau memulai untuk menciptakan kemandirian dalam hal bensin dan solar (atau bahan bakar alternative lainnya), harus ada keberanian untuk itu, jika tidak ingin terus digelayuti oleh persoalan bahan bakar ini. Buat undang-undang, bangun infra strukturnya, olah sendiri minyak bumi yang ada, jika tidak mencukupi kita beli minyak mentahnya, batasi para mafia importer minyak, atau ciptakan bahan bakar alternative seperti biogas atau manfaatkan gas bumi yang berlimpah di Negara kita. Saya kira teknologi pengolahan minyak sudah dikuasai oleh SDM kita yang melimpah. Tidak perlu mempertanyakan ketahanan rakyat dalam masa transisi kemandirian itu, rakyat kita sudah sangat paham dan berpengalaman dengan yang namanya “penderitaan”. Barangkali pada awalnya rakyat akan “menangis” selama beberapa waktu, untuk itu perlu adanya “bujukan” berupa kompensasi yang tepat guna dan tepat sasaran selama masa tenggang menunggu kemandirian itu terwujud. Sekali lagi saya katakan, mandiri atau ke-mandiri-an adalah masalah kreativitas mengolah rasa dan karsa serta keberanian untuk memulai.
No comments:
Post a Comment