Ketika senjakala mulai menapaki persada bumi nuswantara, di saat itulah akan terlihat sepak terjang kaum kerabat pandita dorna yang berhias kebajikan di leher dan dadanya. Tak ada beda antara kentut dengan bicara, semua mengatasnamakan kesucian, padahal mereka sendiri sudah lupa dengan hakekat suci itu sendiri. Mereka sudah dilatih sulap menyulap bibir, sehingga orang-orang yang mendengar bibir mereka bicara, seketika melayang di alam syurgawi, lupa dosa dan neraka, lupa pada tatanan hidup yang sudah sangat semrawut. Melihat kenyataan yang ada, para dorna ini pun banyak yang menyamar menjadi dukun tetapi cabul, sekedar memancing para janda dan sedikit perawan yang memang sudah dirasuki oleh nafsu duniawi sehingga mudah dilahap oleh para dorna.
Kemana para waskita? Di saat itu mereka hanya berdiam di alam rahim sang bumi pertiwi, bingung, dengan apa mereka membenahi alam nuswantara ini, sudah kadung semrawut, mendem saja toh hanya buang-buang energy. Tetapi bukan waskita kalau bersikap masa bodoh, diam-diam mereka menanam ribuan benih di seantero bumi nuswantara ini, setiap benih akan berbuah seribu dan dari seribu itu setiap buahnya mengandung satu kebenaran. Mereka hanya memupuk dan menjaga benih ini dari hama-hama pengganggu sampai pada saatnya berbuah. Maka di saat itulah akan muncul ribuan kebenaran yang akan merubah suasana lahir dan bathin negeri ini.
Setiap Kebenaran akan memaksa para dorna dan gerombolan kurawa bertekuk lutut, begitu juga dengan para aliansinya. Para waskita ternyata sudah merancang kebenaran ini sedemikian rupa sehingga dia bisa berubah menjadi apa saja, tergantung situasinya, ketika berhadapan dengan para dorna, dia akan berubah menjadi sosok seperti seorang nabi dan ketika berhadapan dengan para kurawa dia akan berubah menjadi pandawa lima. Atau ketika dibutuhkan untuk mengobati nurani manusia yang sudah berkarat maka dia akan mencungul menjadi lurah semar beserta anak-anaknya. Dan manakala para denawa dari negeri antah berantah mengamuk, maka dia akan merubah dirinya menjadi senjata kunta wijaya yang sekali dilepaskan dari busurnya akan meliuk-liuk memenggal kepala para denawa sampai habis tidak tersisa. Dan tidak itu saja, kebenaran ini akan mengungkap kebenaran sejati sejarah nuswantara yang sekian lama disembunyikan, akan muncungul di atas bumi nuswantara apa-apa yang merupakan jati diri negeri ini sebagai sesuatu yang diwariskan oleh para leluhur.
Setelah setiap manusia di bumi nuswantara ini dirasuki oleh kebenaran, maka munculah pemimpin yang takut kepada hukum Tuhan sehingga tertiblah tata aturan yang berlaku, setiap perut kenyang dengan makanan, tidak ada lagi tuna wisma karena setiap orang punya rumah sendiri, tidak ada lagi anak haram jadah karena setiap anak jelas siapa bapaknya, tidak ada lagi pelacuran karena setiap perempuan malu menjual anunya, tidak ada lagi buruh tani karena setiap orang punya sawah sendiri, jaring nelayan tidak lagi sunyi karena ikan tidak lagi punya tempat sembunyi. Dan para pedagang tidak perlu menunggui dagangannya, karena setiap orang paham akan hak dan kewajibannya. Semua kekayaan bumi nuswantara yang disembunyikan oleh para leluhur serempak muncul, membuat bingung semua orang, emas, perak, timah, uranium, terhampar di permukaan bumi. Pada saat itulah sejarah akan berulang menampilkan negeri Nuswantara Indonesia yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem lan sejahtera, seluruh dunia berpaling kepada negeri ini, tertunduk segan, karena begitu adi dayanya bumi pertiwi.
Ginanto#3#1#17#
No comments:
Post a Comment