google-site-verification: googlee14e3409d2fcbac7.html

Thursday, February 5, 2015

Kebangkitan Nasional,Sudah kah?

Bismillahirohmmanirrohim
Assalamualaikum wr. wb.
Kebangkitan nasional, saya yakin setiap kita mendengar hal itu yang terlintas di benak setiap orang Indonesia adalah Boedi Utomo sebuah organisasi ningrat terpelajar yang memiliki semangat baru bagi rakyat pribumi pada saat itu. Walaupun, Boedi Utomo pada saat itu masih berfikir dalam mindset penjajah, sebuah pola fikir yang sangat jelas rasa “londo”nya, akan tetapi   keberanian membentuk Sebuah organisasi pribumi dengan segala tujuannya itu, merupakan semangat yang mampu menjadi pendulum bagi kebangkitan sebuah bangsa yang terjajah lahir bathinnya, kebangkitan untuk menjadi manusia yang termanusiakan, kebangkitan untuk menjadi sebuah bangsa yang memiliki harga diri, sebuah kebangkitan yang menjadikan bangsa ini untuk mampu berdiri sama tinggi dengan bangsa lainnya.
Sekarang setelah 105 tahun semenjak kebangkitan kesadaran berbangsa tersebut,apakah ada perubahan mindset di dalam menyikapi sebuah kebangkitan?
Apakah pola pikir yang kita pakai masih sama dari tahun ke tahun atau kah sudah berubah menyesuaikan dengan zaman? Saya kira cara yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu adalah dengan melihat kondisi sosial politik Negara ini, dan barometernya saya kira adalah kualitas dunia pendidikan dan politik kita.
Bagi saya kebangkitan nasional adalah sebuah proses kesadaran setiap orang untuk berbuat yang terbaik  di bidangnya bagi bangsa dan Negara ini. Kesadaran ini baru bisa dirasakan keberadaan dan manfaatnya manakala semua energi itu diakomodir oleh pemerintah yang berkuasa. Kita lihat kondisi dunia politik sekarang, sangat jauh sekali dari makna kebangkitan nasional, pemerintah yang berkuasa sangat dekat dengan apa yang namanya korupsi, kolusi, nepotisme. Atau kita lihat para anggota DPR, yang walaupun tidak semua, tetapi hampir semua berebut memperoleh “proyek” bagi kepentingan pribadi, kolega dan partainya. Kita lihat juga bagaimana partai-partai politik karbitan, dengan kader-kadernya yang karbitan juga,serta program kerja partai yang reaksional emosional. Kaderisasi partai yang mati suri menyebabkan sebagian besar politisi yang tampil adalah politisi tanpa konsep yang jelas dan berorientasi proyek. Dunia politik kita membutuhkan semangat kebangkitan yang baru, semangat untuk terbebas dari belenggu mindset politik kolonial, semangat berpolitik yang santun,bersih dan mencerahkan bagi bangsa ini.
Saya percaya bahwa bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa yang cerdas, bangsa yang pada saatnya nanti akan merubah jalan sejarah dunia. Akan tetapi mari kita lihat kondisi dunia pendidikan kita, berganti-ganti kurikulum menjadi suatu kebiasaan, kurikulum robot-setidaknya saya sebut-kurikulum yang mencetak siswa menjadi robot penghapal, kurikulum contekan-setidaknya saya menyebutnya-mindset kolonial yang masih melekat dibenak para pemikir dan politikus yang terdidik pada masa kolonial mengakibatkan selalu menganggap baik suatu sistem yang ada di barat sana. Tahun 2013 ini ditetapkan sebagai tahun yang paling buruk dalam pelaksanaan ujian nasional, sebuah ujian yang tidak jelas standard dan fungsinya. Dunia pendidikan kita membutuhkan kurikulum yang berbasis budaya nasional, budaya luhur yang asli produk nenek moyang kita, bukan hasil contekan budaya bangsa lain. Tanpa muatan budaya asal, kita akan selalu menjadi bangsa tanpa jatidiri yang jelas. Kita lihat, kurikulum tanpa muatan agama dan budaya yang memanusiakan siswa, lebih banyak menghasilkan tawuran antar pelajar ketimbang prestasi.
Saya sepakat dunia pendidikan merupakan tanggung jawab bersama, akan tetapi pemerintah maupun politikus di DPR sana buat saya adalah tetap sebagai penggerak utama, merekalah yang paling bertanggung jawab atas baik buruknya kualitas pelaksanaan pendidikan di negara ini. Sayangnya pemerintah sibuk dengan urusannya sendiri dan para politikus karbitan tidak memiliki konsep yang jelas bagaimana pendidikan itu dibentuk dan dilaksanakan. Sebagai akibatnya dunia pendidikan yang seharusnya mampu menyumbang politikus berkualitas di dalam dunia politik  tidak mampu berberbuat banyak. Politik itu dapat dipahami dalam tiga hal yaitu aksi,konsep dan komunitas, nah pendidikan-dalam hal ini kampus-adalah tempat para calon politikus untuk belajar bagaimana konsep berpolitik yang baik dan benar. Dunia pendidikan kita membutuhkan semangat kebangkitan yang baru, agar dunia pendidikan kita mampu menjadi media yang memanusiakan siswa sehingga produk yang dihasilkan pun mampu menjadi manusia-manusia yang tercerahkan dan mencerahkan bagi bangsa ini.
Kesimpulannya adalah kebangkitan nasional yang selalu diperingati tiap tahun, belum mampu menjadi ruh penggerak kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Kebangkitan nasional  membutuhkan semangat, mindset dan political will baru dari seluruh elemen bangsa terutama pemerintah yang berkuasa, tanpa itu semua, momen kebangkitan nasional hanyalah sebuah peristiwa yang  masa lalu yang tidak memiliki arti bagi bangsa ini.
Wassalamualaikum wr. wb.
Jakarta,  20 mei 2013

No comments:

Post a Comment