Bismillahirohmmanirrohim
Assalamualaikum wr. wb.
Kebangkitan
nasional, saya yakin setiap kita mendengar hal itu yang terlintas di
benak setiap orang Indonesia adalah Boedi Utomo sebuah organisasi
ningrat terpelajar yang memiliki semangat baru bagi rakyat pribumi pada
saat itu. Walaupun, Boedi Utomo pada saat itu masih berfikir dalam
mindset penjajah, sebuah pola fikir yang sangat jelas rasa “londo”nya,
akan tetapi keberanian membentuk Sebuah organisasi pribumi dengan
segala tujuannya itu, merupakan semangat yang mampu menjadi pendulum
bagi kebangkitan sebuah bangsa yang terjajah lahir bathinnya,
kebangkitan untuk menjadi manusia yang termanusiakan, kebangkitan untuk
menjadi sebuah bangsa yang memiliki harga diri, sebuah kebangkitan yang
menjadikan bangsa ini untuk mampu berdiri sama tinggi dengan bangsa
lainnya.
Sekarang setelah
105 tahun semenjak kebangkitan kesadaran berbangsa tersebut,apakah ada
perubahan mindset di dalam menyikapi sebuah kebangkitan?
Apakah
pola pikir yang kita pakai masih sama dari tahun ke tahun atau kah sudah
berubah menyesuaikan dengan zaman? Saya kira cara yang tepat untuk
menjawab pertanyaan itu adalah dengan melihat kondisi sosial politik
Negara ini, dan barometernya saya kira adalah kualitas dunia pendidikan
dan politik kita.
Bagi saya
kebangkitan nasional adalah sebuah proses kesadaran setiap orang untuk
berbuat yang terbaik di bidangnya bagi bangsa dan Negara ini. Kesadaran
ini baru bisa dirasakan keberadaan dan manfaatnya manakala semua energi
itu diakomodir oleh pemerintah yang berkuasa. Kita lihat kondisi dunia
politik sekarang, sangat jauh sekali dari makna kebangkitan nasional,
pemerintah yang berkuasa sangat dekat dengan apa yang namanya korupsi,
kolusi, nepotisme. Atau kita lihat para anggota DPR, yang walaupun tidak
semua, tetapi hampir semua berebut memperoleh “proyek” bagi kepentingan
pribadi, kolega dan partainya. Kita lihat juga bagaimana partai-partai
politik karbitan, dengan kader-kadernya yang karbitan juga,serta program
kerja partai yang reaksional emosional. Kaderisasi partai yang mati
suri menyebabkan sebagian besar politisi yang tampil adalah politisi
tanpa konsep yang jelas dan berorientasi proyek. Dunia politik kita
membutuhkan semangat kebangkitan yang baru, semangat untuk terbebas dari
belenggu mindset politik kolonial, semangat berpolitik yang
santun,bersih dan mencerahkan bagi bangsa ini.
Saya
percaya bahwa bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa yang cerdas, bangsa
yang pada saatnya nanti akan merubah jalan sejarah dunia. Akan tetapi
mari kita lihat kondisi dunia pendidikan kita, berganti-ganti kurikulum
menjadi suatu kebiasaan, kurikulum robot-setidaknya saya sebut-kurikulum
yang mencetak siswa menjadi robot penghapal, kurikulum
contekan-setidaknya saya menyebutnya-mindset kolonial yang masih melekat
dibenak para pemikir dan politikus yang terdidik pada masa kolonial
mengakibatkan selalu menganggap baik suatu sistem yang ada di barat
sana. Tahun 2013 ini ditetapkan sebagai tahun yang paling buruk dalam
pelaksanaan ujian nasional, sebuah ujian yang tidak jelas standard dan
fungsinya. Dunia pendidikan kita membutuhkan kurikulum yang berbasis
budaya nasional, budaya luhur yang asli produk nenek moyang kita, bukan
hasil contekan budaya bangsa lain. Tanpa muatan budaya asal, kita akan
selalu menjadi bangsa tanpa jatidiri yang jelas. Kita lihat, kurikulum
tanpa muatan agama dan budaya yang memanusiakan siswa, lebih banyak
menghasilkan tawuran antar pelajar ketimbang prestasi.
Saya
sepakat dunia pendidikan merupakan tanggung jawab bersama, akan tetapi
pemerintah maupun politikus di DPR sana buat saya adalah tetap sebagai
penggerak utama, merekalah yang paling bertanggung jawab atas baik
buruknya kualitas pelaksanaan pendidikan di negara ini. Sayangnya
pemerintah sibuk dengan urusannya sendiri dan para politikus karbitan
tidak memiliki konsep yang jelas bagaimana pendidikan itu dibentuk dan
dilaksanakan. Sebagai akibatnya dunia pendidikan yang seharusnya mampu
menyumbang politikus berkualitas di dalam dunia politik tidak mampu
berberbuat banyak. Politik itu dapat dipahami dalam tiga hal yaitu
aksi,konsep dan komunitas, nah pendidikan-dalam hal ini kampus-adalah
tempat para calon politikus untuk belajar bagaimana konsep berpolitik
yang baik dan benar. Dunia pendidikan kita membutuhkan semangat
kebangkitan yang baru, agar dunia pendidikan kita mampu menjadi media
yang memanusiakan siswa sehingga produk yang dihasilkan pun mampu
menjadi manusia-manusia yang tercerahkan dan mencerahkan bagi bangsa
ini.
Kesimpulannya adalah
kebangkitan nasional yang selalu diperingati tiap tahun, belum mampu
menjadi ruh penggerak kehidupan berbangsa dan bernegara kita.
Kebangkitan nasional membutuhkan semangat, mindset dan political will
baru dari seluruh elemen bangsa terutama pemerintah yang berkuasa, tanpa
itu semua, momen kebangkitan nasional hanyalah sebuah peristiwa yang
masa lalu yang tidak memiliki arti bagi bangsa ini.
Wassalamualaikum wr. wb.Jakarta, 20 mei 2013
No comments:
Post a Comment