Apapun pekerjaan kita dan di mana pun kita bekerja, tentunya kita akan selalu berusaha untuk menjadi lebih produktif dalam bekerja, akan tetapi terkadang segelas kopi (atau lebih) dan daftar pekerjaan yang kita susun tidak membuat kita menjadi lebih produktif. Lalu mengapa kita begitu terobsesi pada yang namanya produktivitas, begitu sulitkah hal itu dicapai? Barangkali, sekarang ini begitu sulit rasanya untuk dapat tetap fokus pada pekerjaan dan menghindari “godaan” daripada melaksanakan pekerjaan itu sendiri.
Kita seringkali salah memahami apa yang dimaksud dengan produktivitas kerja. Produktivitas tidak berkaitan dengan berapa banyak jumlah pekerjaan yang telah kita selesaikan, Productive adalah jika kita mampu mengerjakan setiap tugas secara efektif dan efisein. project management and productivity expert Tony Wong, memberikan beberapa tips bagaimana dia melakukan pekerjaannya secara produktif
Bersiaplah untuk menjadi lebih produktif dengan melakukan beberapa langkah berikut ini,
1. Cut your to-do list in half. Produktif itu bukan berarti kita harus melakukan sebanyak mungkin pekerjaan selama delapan jam waktu kerja kita. Take a less, jangan membuat daftar pekerjaan yang panjang, realitas aja, fokuslah pada pekerjaan yang benar-benar penting saja, tentukan dengan membuat skala prioritas.
2. Take more breaks. Produktif itu juga bukan berarti kita harus duduk terus di depan monitor, atau terus mengetik sampai jari kita keriting,. Bekerja sekian jam terus menerus dapat menyebabkan sakit kepala, take a break, istirahat sejenak dengan berjalan-jalan (sekedar memberi penyegaran terhadap pantat kita aja), makan siang atau ngemil atau bisa juga dengan melakukan meditasi, pokoknya hal-hal fisik yang kita lakukan agar tubuh kita dapat kembali segar. Bekerja yang efektif dan efisien itu harus ditunjang oleh jiwa dan raga yang fresh.
3. Follow the 80/20 rule. Kita bisa mencoba menggunakan aturan 80/20, dengan melakukan 20 persen dari daftar pekerjaan kita setiap hari, yang akan mampu memberikan hasil 80 persen dari target pencapaian kita. Caranya dengan membreak down pekerjaan kita dalam beberapa langkah-membuat daftar pekerjaan dengan menggunakan skala prioritas-kemudian memilah-milah pekerjaan dengan menghilangkan hal-hal yang tidak penting-kurang memiliki dampak pada target pencapaian-sampai hal itu mencapai duapuluh persen dari daftar pekerjaan keseluruhan, dan memberikan kontribusi sebesar delapan puluh persen dari seluruh target pencapaian. Kerja 20% menghasilkan 80% dari target akhir.
4. Jangan mematikan produktivitas dengan memulai hari-hari kerja kita dengan membuka email dan kalender kerja kita. Ini akan membuka peluang bagi hal-hal lain-somebody,or other thing-untuk mengalihkan kita dari apa yang ingin kita capai atau kita kerjakan. Mulailah hari-hari kita tanpa mengecek email, lebih baik sarapan, membaca berita, atau melakukan meditasi (atau jika seorang muslim anda bisa melakukan shalat dluha), hal-hal tersebut mampu memberikan tenaga extra agar kita produktif dalam bekerja. Use your morning to focus on yourself.
5. Selesaikan pekerjaan yang paling menantang (paling berat) selagi otak kita masih fresh, tetapkan pekerjaannya dan fokus untuk menyelesaikannya, kemudian me-rescheduling jadwal pekerjaan atau meeting, untuk sore hari. Aturlah jadwal pekerjaan anda dengan cara seperti ini, Tackle your challenging tasks before lunch, maka kita akan mampu membuat dan menemukan banyak cara yang produktif untuk mengatur jam kerja kita (untuk pekerjaan selanjutnya).
6. Email merupakan “pembunuh produktivitas” dan biasanya akan mengalihkan kita dari suatu pekerjaan yang sudah kita rencanakan. Ingat ! jangan sampai terjebak pada yang satu ini, Improve your email etiquette. Penggunaan email- yang melibatkan banyak orang or chatting-merupakan gejala dari rasa malas kita dan secara nyata akan mempengaruhi konsentrasi atau mood orang lain-by content or status- untuk bekerja.
7. Create a system. Mengingat banyaknya “gangguan” yang kita alami, maka kemungkinan kita memiliki tingkat produktivitas yang rendah akan sangat besar. Oleh karena itu, untuk menjadi produktif, kita harus bisa dan mau untuk mengelola segala kendala itu, dengan membuat sebuah sistem pengelolaan, yang denganya kita mengatur cara kita mengelola email dengan aturan yang ketat, membuat perencanaan kerja untuk pagi, siang dan sore hari kita. Jika ini-sistem pengelolaan- tidak kita buat, maka kita akan terus mengalami “gangguan” pada saat bekerja.
8. Stop confusing productivity with laziness. Dalam banyak kasus, Sifat malas merupakan contributor no.1 dari menurunnya tingkat produktivitas, faktanya, pengaturan waktu menelpon, metode kerja, meeting, dan penggunaan email (social media), dimanfaatkan untuk sekedar menghindar dari pekerjaan yang sesungguhnya. So, jangan mengatasnamakan meeting padahal sebenarnya, kita yang memang sedang malas bekerja. Lawan rasa malasnya dan tempatkan perhatian kita pada pekerjaan yang memang penting secara prioritas, dengan mengerjakannya secara efficien dan seefektif mungkin.
9. Stop multi-tasking. Berhentilah mencoba melakukan sepuluh pekerjaan sekaligus pada saat sama, hal ini akan membuat pikiran kita bercabang dan efeknya bisa membuat kita tidak menyelesaikan tugas sama sekali. Selesaikan pekerjaan dengan efektif dan efisien dengan fokus pada pekerjaan atau tugas yang sedang kita kerjakan saja. Sedikit pekerjaan yang kita selesaikan akan lebih baik manakala hal itu dapat menjadikan kita produktif pada saat bekerja.
What do you do to stay productive at work?
No comments:
Post a Comment